Sabtu, 25 Februari 2012

So, please be my baby

.
Disclaimer : Seandainya aja Suju punya saya…
.
.
Sebuah fic seharga limabelas ribu won yang saya sadurkan para reviewers fic sebelumnya 'Limabelas ribu won' with little bit angst. Two shoots
.
.
Kyuhyun dan ahra adalah dua kakak-beradik yang terlihat begitu harmonis. Ugh, kau yakin? Namja bernama Siwon yang mengetahui faktanya.
.
.
Aku berjalan di tengah hujan. Jadi, tak satupun bisa melihatku menangis.
.
.
.
Derai hujan dengan setia menemani tiap langkahku. Tak perduli dengan keadaan kuyub ini, aku terus melangkah tanpa arah.
"Kyu, mau dengar sebuah cerita?"
"Cerita apa?"
"Cerita seorang bayi."
"Aku tidak suka bayi, cerita yang lain saja noona..."
"Ani, bayi ini sangat jahat. Kau pasti mau tahu kenapa ada bayi yang jahat, iya 'kan"
"Kenapa-kenapa? Aku mau dengar!"
Cho Kyuhyun.
Nama bayi jahat itu Cho Kyuhyun.
Aku. Ya, itu aku, Cho Kyuhyun. Bayi jahat yang di ceritakan Ahra noona. Bayi jahat yang tujuh belas tahun lalu di buang di depan pintu keluarga Cho.
"Tujuhbelas tahun lalu, sebuah suara tangis bayi membangunkan seorang wanita dari tidurnya. Wanita itu bangun dan mencari asal suara. Ia menajamkan pendengarannya sampai ia ada di depan pintu rumahnya."
"Wanita itu belum menikah noona?"
"Dia sudah menikah dan mempunyai seorang putri yang berumur tiga tahun. Boleh aku lanjutkan?"
"Ne, lanjutkanlah!"
"Wanita itu membuka pintu rumahnya, dan betapa terkejutnya dia waktu melihat keranjang berisi seorang bayi. Waktu itu hujan turun dengan derasnya, suara petir pun kadang terdengar memekakan. Tanpa pikir panjang, wanita itu langsung membawa bayi mungil itu dalam pelukannya sebelum akhirnya dia kembali masuk ke rumahnya."
"Ku rasa bayi itu tidak jahat noona, dia sangat kasihan."
"Tarik kembali kesimpulanmu itu Kyu. Perlahan, bayi itu mulai merebut segala kasih sayang si wanita dari gadis kecilnya. Ia mengangkat bayi itu menjadi anaknya dan menghiraukan segala perasaan anak yang satunya lagi... Si gadis kecil yang malang."
"Noona, dia masih bayi, mana mungkin dia melakukan hal itu!"
"Itu sebabnya aku sebut dia bayi jahat! Bayi itu membuat si gadis kecil di hiraukan, bahkan tak jarang si gadis kecil di hukum di kamar mandi karena bayi itu. Bayi jahat itu telah merampas segala kasih sayang si gadis kecil. Jahat bukan?"
"Apa? Jadi bayi itu merampas kebahagiaan si gadis kecil, bayi itu jahat ya noona..."
"Dan kau tahu, bayi itu bernama
Cho Kyuhyun,Cho Kyuhyunlah bayi jahat itu"
"Akulah bayi yang merampas kebahagiaanmu noona, mianhe..."
Seluruh tubuhku telah basah oleh air hujan. Dengan angin jahat yang ikut berhembus, menambah tajam rasa dingin yang menusuk kulitku.
"Dan bahkan aku menyebut bayi itu jahat!"
Ku tatap nanar sekelilingku. Bentangan rumput hijau yang mengelilingiku, seakan siap menenggelamkan aku dalam-dalam ke dasar perut bumi. Ya, aku pantas di sana, di kubur di dasar perut bumi; agar tak ada lagi yang ku rebut kebahagiaannya.
.
KRESK!
KRESK!
.
"Siapa itu? Siapa di sana? Keluarlah!" Aku bangun dari posisi dudukku. Ku perhatikan dengan seksama gerakan semak belukar di sampingku.
"Guk! Guk!"
"Huft, ternyata anjing kecil." Aku lalu kembali duduk di samping belukar. Ku sandarkan kembali kepalaku di dahan pohon di belakangku.
[Kyuhyun pov end]
"Guk! Guk" anjing kecil yang tadi bersembuyi di balik belukar itu berlari ke arah Kyuhyun.
"Mau apa kau? Pergi! Aku tidak punya makanan." Kyuhyun mengusir anjing kecil yang sedang mengusap-usap bulunya yang basah di celana jeans Kyuhyun.
"Guk! Guk!"
"Aku juga basah bodoh! Tak ada gunanya kau mengusap tubuhmu di jeans-ku!" Kyuhyun geram.
Anjing kecil itu justru tambah mendekatkan dirinya. Hup!. Anjing itu melompat ke pangkuan Kyuhyun.
"Dasar nakal!" Kyuhyun menatap bosan kepada anjing kecil yang sedang mencari kehangatan di tubuhnya. namja murung itu pun sudah tidak menghiraukan keberadaan anjing itu lagi.
Derai hujan semakin deras. Seakan tidak perduli, Kyuhyun justru memejamkan matanya. Anjing kecil di pangkuannya pun justru semangkin meringkukkan badanya agar dapat merasakan kehangatan yang lebih.
"CHOCOO!"
Mendengar seruan seseorang, Kyuhyun membuka matanya.
"CHOCOO KAU DI MANA?"
Kyuhyun terkesiap, ia lalu mulai bangkit dari duduknya; membuat anjing kecil di pangkuannya melompat agar tidak terjatuh.
"CHOCOO!"
Kyuhyun mendengar sebuah suara entah di tujukan untuk siapa.
"Guk!Guk!"
Tiba-tiba anjing kecil yang tadi mengganggu Kyuhyun. Anjing itu mulai menggonggong sambil melompat-lompat semangat.
Kyuhyun memperhatikan anjing kecil itu sebentar sampai akhirnya dia mengerti sesuatu.
"Choco! Ternyata kau di sini!"
Seorang namja dengan balutan jas hujan berwarna biru gelap tiba-tiba datang dan meraih anjing kecil itu dalam pelukannya.
"Guk!Guk!"
Anjing kecil itu lalu melompat turun dari rangkulan namja berjas hujan itu. Dengan semangat si anjing melompat-lompat lalu mengelus kaki Kyuhyun manja.
"Ah, jeongmal gomawo, sepetinya anjingku menyukaimu."
Samar-samar, Kyuhyun melihat senyum dari pria berjas itu. Dirinya juga melihat sebuah lesung pipi yang menghias wajah namja pemilik anjing itu.
Samar-samar karena hari hujan dan telah malam.
Atau–
–Samar-samar karena semuanya terasa gelap.
.
.
.
[Kyuhyun pov]
Pusing.
Kepalaku sakit, seperti ribuan jarum sedang menghujam kepalaku. Perlahan, ku tatap sekeliliingku. Bukan di pohon, bukan di rumah, ini di mana?
.
Grudug!
Grudug!
.
Ku dengar suara lantai kayu yang bergemuruh. Dengan kepala berat seperti ini, ku paksakan untuk bangun dari posisi tidurku. Ini gila! Aku benar-benar tidak tahu ada di mana.
"Guk!"
Sebuah suara gonggong anjing yang terasa familiar menyapa pendengaranku. Setelahnya ku lihat seekor anjing kecil dengan bulu-bulu putihnya melompat dan meringkuk di pangkuanku.
"Chocoo! Kau ini benar-benar nakal yah!"
Tak lama setelah anjing itu, seorang namja tinggi dengan kaos putih dan celana selutut kembali mengusik perhatianku. 'oh tuhan apa lagi ini?'
Hup!. Anjing kecil itu melompat turun dari pangkuanku, dengan gesit ia berlari dan melompat naik ke dalam pelukan namja tinggi itu.
Terasa... Pernah melihat.
"Ah, maaf, kau pingsan dan aku membawamu kemari." ku lihat, ia memamerkan senyumnya dengan dua buah lesung pipi yang mengihasi.
'Aku ingat!' dia adalah namja berjas hujan di taman itu. Ku paksakan sebuah senyum tanda terima kasihku, aku yakin ini rumahnya dan aku harus punya sopan santun.
"Choi Siwon imnida."
Kembali dengan sebuah senyum yang di paksakan, aku menyambut jabatan tangannya. "Cho- ah, maksudku Kim Kyuhyun."
Ku putuskan untuk mengubah nama margaku. Dengan begini, aku tak perlu menanggung berat marga 'Cho' yang selama ini ku pikul.
"Ini sudah malam, kau bisa menginap dulu di sini. Tapi itu juga bila kau berkenan"
"Benarkah?"
Sungguh ini adalah anugrah. Lumayan, hari ini aku tidak perlu repot mencari penginapan. Uang yang ku miliki lumayan cukup, tapi aku harus buru-buru mencari pekerjaan untuk menutupi biaya hidupku. Ya, aku memutuskan untuk meninggalkan rumah itu setelah semua yang terjadi.
[Kyuhyun pov end]
"Tadi aku mengganti bajumu."
Mendengar perkataan namja Choi itu, Kyuhyun sedikit tersentak kaget.
"Basah sekali..."
Kyuhyun mengangguk paham. Menurutnya, tak ada yang perlu di permasalahkan, karena mereka sesama namja 'kan?
"Mianhe, aku merepotkanmu."
Mendengarnya, Siwon hanya mengangguk sedikit dan lalu beranjak pergi meninggalkan Kyuhyun.
"Oh iya," Siwon mebalikan badanya. "Tadi kau sedang apa di taman?"
Kyuhyun mulai memutar otaknya untuk mencari alasan yang tepat. "Aku.. Tersesat"
"Memangnya rumahmu di mana? Kau bukan orang sini?"
"I-itu... Iya! Aku dari desa, aku mencari kakakku di sini hingga akhirnya aku tersesat." Entah ide dari mana hingga Kyuhyun mulai benar-benar merangkai kebohongannya.
"Jadi kau tidak punya tempat tinggal? Tinggalah di sini sampai kau menemukan kakakmu," Siwon mulai beranjak ke kasur yang Kyuhyun tempati dan mengambil posisi duduk di tepian kasur. "Pasti sulit menemukan flat untukmu, Chocoo pasti tidak keberatan."
"Tapi aku–"
"–sudahlah, ini sebagai ucapan terima kasihku untuk Chocoo." Siwon mengulas senyum hangatnya.
"Guk!Guk!Guk!" Chocoo melompat lompat senang.
Siwon tertawa sendiri melihat hewan peliharaannya itu. Ia rasa Chocoo juga setuju dengan idenya.
Dan Kyuhyun, dia memandangi wajah Siwon yang sedang tertawa sambil memperhatikan si anjing kecil. Namja kurus itu tak habis pikir dengan Choi Siwon, si pemilik senyum menawan yang mau-maunya menampung dirinya yang belum satu hari pun di kenalnya.
.
.
.
Hembusan angin menggerakan daun jendela yang lupa di tutup. Tak ayal bunyi decit terdengar dari engsel yang sudah berkarat. Seorang wanita baya berlari kecil dan menutup daun jendela, jendela kamar anak laki-lakinya.
.
Prang!
.
Terdengar sebuah suara pecahan kaca. Wanita itu lalu menoleh dan mendapati sebuah frame foto jatuh dan pecah di bawah meja lampu di samping tempat tidur.
Dengan perlahan ia berjalan untuk merapikan pecahan kacanya. Terasa hampa, wanita itu merasa hampa kala melihat foto dalam frame itu.
Dua orang anak kecil yang sangat ia sayangi. yang satu gadis kecil dengan senyum tipisnya, dan yang satu bocah kecil yang sedang merangkul si gadis kecil erat. Saat itu, gadis kecil berumur tujuh tahun dan adiknya berumur empat tahun.
Wanita baya itu mulai menitikan air matanya kala ia ingat satu anak dari foto itu sudah lagi tidak mengisi rumahnya dengan tawa jahil yang sering terdengar dari mulutnya.
.
Krieet
.
"Umma, apa yang umma lakukan di sini?" tanya seorang gadis muda yang baru saja masuk ke dalam kamar adiknya.
Melihat anak perempuannya masuk, si wanita yang di panggil umma tersenyum sambil mengibaskan tangannya agar anaknya itu mendekat kepadanya.
"Ahra, Kau ingat foto ini tidak?"
Gadis muda nan cantik yang di panggil Ahra itu mengangguk kecil, dengan senyum di paksakan ia berkata. "Appa yang mengambil foto ini 'kan?"
"Dia ini sangat manja kepadamu dan kau juga sangat memanjakannya, kalian berdua seperti sepasang sepatu..." umma Ahra bergumam sambil melihat foto di tangannya kembali.
Ahra tersenyum miris. Ia memandang sayu ke arah ibunya. Kini ia merasa lega, karena dirinya tidak harus berbagi kasih sayang lagi dengan adiknya. Ah, bukan adik, tapi musuhnya. Ahra tidak pernah sekali pun menganggap Kyuhyun sebagai adiknya. Sayang, Kyuhyun terlalu naif untuk menyadari rasa benci Ahra terhadapnya. Dan tahukah Kyuhyun bahwa hal itu membuat Ahra tambah muak dengannya?
Jawabannya tidak.
Bagi Ahra, Kyuhyun hanyalah bocah jahat yang telah merebut segala miliknya. Kebahagiaan, perhatian, kasih sayang, tak perlu di jabarkan semuanya karena Kyuhyun benar-benar merampas segala warna pelangi di hidupnya.
.
.
.
Jam berdetak dengan teratur, mengabsen tiap detik waktu dari kehidupan yang telah di jalani tiap insan yang bernapas. Siwon sedang duduk tenang di atas kasurnya sambil mengelus bulu-bulu putih anjing di pangkuannya dengan sayang.
"Bagaimana menurutmu Chocoo? Apa aku harus mengutarakannya?"
Si anjing yang di tanya hanya diam sambil menjilati tapak kakinya; Tak memperdulikan pertanyaan tuannya.
"Diam berarti setuju. Baiklah, jika dia pulang nanti aku akan mengajaknya pergi ke taman hiburan. Kau tunggu di rumah saja ya..." kembali namja tampan itu mengelus bulu-bulu anjingnya lembut.
Hup!. Anjing kecil itu melompat dari pangkuan tuannya dan lalu pergi menghilang dari balik pintu.
Siwon tersenyum kecil, ia lalu meraih ponselnya di meja kecil di samping kasurnya. Dengan senyum sumringah ia menekan-nekan keypad ponselnya dan lalu menekan tombol send.
.
DRRT!
DRRT!
.
Siwon tersenyum kecil sambil membaca pesan singkat yang baru saja masuk ke ponselnya.
From: Kim Kyuhyun
Ne, aku akan datang hyung, sekalian aku ingin merayakan sesuatu. ^^
.
Siwon mengernyit. 'merayakan sesuatu'
To: Kim Kyuhyun
Kau sudah menemukan kakakmu?
.
Siwon kembali menekan tombol send ponselnya. Lama ia menunggui balasan dari Kyuhyun. namun, hingga setengah jam berlalu, Kyuhyun tak kunjung membalas pesannya. Pada akhirnya namja tampan itu memutuskan untuk mandi dan bersiap-siap, sekalian mempersiapkan mentalnya untuk menyatakan perasaanya kepada Kyuhyun di taman hiburan malam nanti.
Seminggu sejak Kyuhyun tinggal di rumahnya, semingu itu pula Siwon merasakan getaran halus di dadanya, terkhusus tiap kali matanya menangkap sosok kulit pucat Kyuhyun dalam pandangan matanya. Dengan keyakinan penuh Siwon menganggap itu cinta.
.
.
.
"Ummaa! Appaa!" Seorang gadis dengan rambut panjang yang di gerai indah berlarian memeluk ayah dan ibunya yang sedang duduk di bangku di halaman belakang rumahnya.
"Kau ini, dari dulu tak pernah berubah, selalu saja memeluk orang dari belakang." Ny. Cho mengelus helai rambut putrinya sayang.
Tn. Cho tersenyum menatap istrinya. "Ya, istriku, jika Kyu terlalu lama di depan komputer, Ahra selalu memeluknya dari belakang dan lalu mencium anak itu." Tn. Cho beralih menatap Ahra.
'Kalian bahkan tidak tahu kalau aku memeluknya agar bisa segera mencekiknya, atau mencium ceruk lehernya; berharap ada taring tumbuh di gigiku dan menghisap darahnya sampai dia mati'
"Oh ya, secepatnya kita harus menemukan Kyuhyun kembali. Karena kepindahan kita ke Paris di majukan jadi tiga hari lagi." Tn. Cho berkata dengan nada serius.
"Mwo? Kenapa secepat itu suamiku? Pasti atasanmu itu yang mendesakmu!" Ny. Cho berkata geram.
Ahra menyembunyikan senyum bahagiannya. Oh tuhan, betapa bahagianya gadis cantik itu mendengar kabar percepatan kepindahan mereka. Sungguh ia ingin segera meninggalkan Korea dan segala kenangan buruk tentang 'musuhnya'.
"Ahra, aku juga akan berusaha mencari anak itu. Kau juga ya... Kalau sampai besok tidak ketemu juga, kita terpaksa harus meninggalkannya." Tn. Cho masih memasang nada serius. "Dan biarkan aku saja yang melapor ke polisi kali ini. Mereka pasti bisa menemukan Kyuhyun kita."
"Andwae appa! Biar aku saja yang melapor ke polisi lagi. Banyak pekerjaan yang harus appa selesaikan, aku akan berusaha mencarinya."
"Kau pasti sangat menyayanginya, kau sudah berusaha keras untuk menemukan Kyuhyun." Ny. Cho menatap putrinya penuh haru.
Ahra menundukkan kepalanya; berusaha menyembunyikan ekspresi geramnya.
'Kenapa selalu Kyuhyun yang di utamakan?, kenapa aku selalu di nomor duakan? Aku yang anak kandung, tapi kenapa aku?' Ahra menahan kepalan tangannya.
"Sudahlah, ayo kita masuk. Udara mulai terasa tak bersahabat di sini." Tn. Cho bangkit dan mengulurkan kedua tangannya agar istri dan anaknya ikut bangkit bersamanya.
Mereka bertiga lalu berjalan beriringan masuk ke dalam rumah. Meninggalkan bangku yang tadi mereka duduki yang mulai merasakan dingin angin malam. Pohon dan tanaman di halaman kecil rumah itu pun mulai menari mengikuti melodi angin musim dingin yang seakan membentuk suatu harmoni temaram dari kepalsuan.
.
.
.
[Kyuhyun POV]
Aku. Biar tak mempunyai orang tua lagi, biar biar tak merasakan hangatnya kasih seorang kakak. Aku akan terus bahagia, mulai sekarang, hingga nanti.
Tak perlu lagi aku menunggu uang bulanan dari appa, tak perlu lagi aku menyusahkan mereka. Dan yang paling penting, aku tak perlu lagi merebut kebahagiaan kakak. Semoga kakak sekarang bahagia tanpa aku yang mengambil kasih orang tua yang seharusnya hanya miliknya, walau aku masih ingin bersama kalian. Jujur aku sangat merindukan kalian.
Satu lagi daftar pembuktian manfaatku sebagai manusia. Hari ini, perjuanganku selama seminggu penuh mencari kerja telah terbayarkan. Guru bantu matematika di sebuah sekolah tingkat menengah. Hebat bukan? Untunglah aku bisa mendapatkan pekerjaan itu walau tanpa ijazah. Aku sangat menyayangi otak bagian kiriku yang sangat membantu ini.
Oh ya, aku juga ingin merayakan ini bersama Siwon-hyung. Dia juga orang yang sangat baik, aku memang menumpang di rumahnya, dan sekarang aku akan merayakan pekerjaan baruku ini bersamanya.
"Huaaa... Hiks-hiks"
Aku mendengar suara tangis seorang anak kecil. Tanpa ragu, aku menoleh dan mendapati seorang anak perempuan sedang duduk di trotoar jalan sambil menangis.
"Umma..." Anak kecil itu terus menangis sambil sesekali menggumamkan kata 'umma'.
Dengan pelan ku dekati gadis kecil itu. Aku yakin, dia pasti terpisah dari ibunya.
"Adik kecil... Kamu kenapa?" ku elus punggungnya lembut. Ia sedikit terlonjak karena sentuhanku.
"U-umma..." gadis kecil itu menatapku dengan mata basahnya. Ia melihatku takut, mungkin dia pikir aku orang jahat? Entahlah, anak kecil selalu memilki sudut pandang masing-masing.
"Aku bukan orang jahat. Mari, aku bantu mencari ibumu." Dengan senyumku ini, anak ini pasti takkan berpikir aku penjahat.
"Umma meninggalkan aku sendirian eonni, umma jahat sekali." anak itu mengusap-usap kedua matanya dan dengan polosnya ia mamanggilku 'eonni'. oh common, i'm a boy!
"Umma-mu hilang dimana?"
Gadis kecil itu lalu menunjuk kerumunan orang yang sedang menyebrang jalan. Mataku memicing mencoba mencari-cari siapa yang di maksud gadis kecil itu.
"Umma-mu pakai baju warna apa?"
"Biru,"
"Baiklah, kita cari sampai ketemu!" Ajakku riang. Aku tidak mau lagi ada anak yang terpisah dari ibunya. Aku tahu rasanya, pedih dan menyakitkan.
Ku putuskan untuk meluangkan beberapa menit waktuku untuk mencari ibu dari anak ini. Ibu itu juga pasti sedang mencari anaknya bukan?
[Kyuhyun POV end]
.
.
.
Siwon sedang duduk tenang di sebuah bangku yang ada di taman hiburan. Ia sedang menanti kehadiran Kyuhyun, namja yang sedari tadi di tungguinya.
Ia mulai gelisah, karena sudah satu jam meleset dari perjanjian bertemu. Bukan tidak berusaha menelpon Kyuhyun, namun memang namja itu sama sekali tidak menyambut panggilannya.
"Ehm... Nak, bisa geser sedikit?"
Seorang nenek tua dengan di balut mantel berbahan wol yang lusuh meminta Siwon agar memberikan sedikit tempat duduk untuknya.
"Ah, silahkan." dengan senang hati Siwon mempersilahkan nenek itu duduk.
Perlahan, nenek tua itu mendudukkan tubuh rentanya. Ia membawa sebuah tongkat berwarna coklat tua sebagai penopang tubuhnya, rambutnya yang berwarna putih sedikit menyembul dari balik topi berbahan linen yang tampak sama tuanya dengan umurnya. Dan jangan lewatkan syal kelabu yang menutupi pundaknya.
"Kau pasti menunggu seseorang. Pasti kekasihmu." nenek itu mulai membuka pembicaraan dengan Siwon. Air wajahnya yang keriput menunjukkan keramahan yang hangat. Siwon senang melihatnya. Seperti neneknya.
"Aku menunggu seseorang." Siwon memberikan senyum terbaiknya.
"Ah, pasti spesial. Semoga dia datang sebelum cucuku yang datang." nenek itu kembali berujar.
"Ku rasa dia akan senang melihatmu."
Suasana terasa hangat karena kehadiran nenek tua itu. Lama, Siwon berbincang dengan nenek itu. Namun, sepertinya baik Kyuhyun dan cucu si nenek belum menunjukkan tanda-tanda akan datang.
"Nak. Temanmu itu, apakah kau menyukainya?" nenek tua itu bertanya dengan senyum yang belum juga luntur dari bibirnya.
"Aku–"
"–Aku berharap kau tidak menyukainya, karena temanmu itu akan meninggalkan luka di hatimu." senyuman di wajah nenek itu luntur, di gantikan dengan kemuraman yang membuat Siwon bergidik melihatnya.
Namun akhirnya Siwon memilih tersenyum sambil berkata. "Dia anak baik"
"Anak muda selalu begitu, hal naif yang paling di benci para Dewa." nenek itu kembali berkata. Seperti dukun saja lama-lama dia.
"Oh, kau harus melihatnya dulu nek. Aku yakin kau akan berubah pikiran." Siwon berusaha meyakinkan nenek itu.
"Sangat, aku sangat ingin melihatnya." nenek itu kembali mengulas senyumnya. Sekarang dia seperti ibu peri. "Tapi sepertinya aku harus segera pergi" nenek itu melempar pandangannya ke depan; melihat seekor anjing tengah berlari ke arahnya.
Alis Siwon mengkerut. "Ah, tapi kau menunggu cucumu bukan?"
"Ne, ini cucuku." nenek itu memeluk anjingnya erat
Siwon mengernyit.
"Sampai jumpa lagi anak muda!" akhirnya nenek itu mulai beranjak pergi meninggalkan Siwon.
Siwon berpikir. 'apa dia waras?'
.
.
.
Kyuhyun akhirnya berhasil mempertemukan gadis kecil tadi dengan ibunya. Sebagai tanda terima kasih, gadis kecil itu memberi Kyuhyun balon miliknya untuk Kyuhyun. Lalu mencium kedua pipi Kyuhyun bergantian. Kyuhyun tersenyum ramah sebagai responsnya.
"Uuh... Hari ini letih sekali, aku juga lapar" Kyuhyun bergumam sambil sesekali melempar pandangannya ke arah kios-kios makanan yang berjejer ramah di samping kiri-kanannya.
Dia sama sekali lupa dengan janjinya dengan Siwon di taman hiburan. Sudah dua jam meleset dari perjanjian bertemu, tapi sepertinya Kyuhyun benar-benar tidak ingat.
Harum masakan di pasar tradisional Namdaemun memang selalu menggoda. Pada akhirnya Kyuhyun memutuskan untuk mampir di sebuah kedai topoki. "Mm... Aku mau topoki-nya ajhussi!"
"Tunggu sebentar!" si penjual topoki tampaknya masih sibuk melayani pelanggannya yang lain. Kiosnya memang paling ramai sih, tapi tak masalah bagi Kyuhyun, karena perutnya memang sudah terasa lapar.
"Uum, jam makan malam sudah lewat. Siwon Hyung sudah makan belum yah?" pikirannya melayang ke rumah. Di mana situ ada Chocoo yang sibuk berlarian kesana-kemari dan siwon yang sedang asik membaca buku.
Kyuhyun tersenyum.
"Ajhussi! Aku minta dua ya!" Akhirnya Kyuhyun memutuskan untuk membelikan Siwon juga. Kalau pun Siwon tidak suka, Kyuhyun masih sanggup menghabiskannya.
.
DRRT-DRRT!
.
Ponsel Kyuhyun bergetar. Namun sepertinya getarannya terlalu kecil hingga Kyuhyun tidak dapat merasakannya, jadi saja dia menghiraukan ponselnya.
.
DRRT-DRRT!
.
Kembali, ponsel Kyuhyun bergetar. Sepertinya kali ini Kyuhyun cukup sensitif menerima getaran dari ponselnya. Kemudian ia mengangkatnya.
"Yeob–"
"Kyu, kau di... Mana?"
Kyuhyun mengernyit mendengar suara orang yang menelponnya.
"Aku, baru mau pulang hyung, waeyo?"
"Pulang? Aku menunggumu Kyu" suara Siwon terdengar pelan.
"... Hyung! Gwencanayo?"
"..." sejenak tak ada jawaban. "Cepatlah kyu..."
Kyuhyun panik. Baginya suara Siwon terdengar begitu dingin. Pikirannya kembali melayang saat baru menerima pesan singkat dari Siwon siang tadi.
"Aigoo aku lupa!" akhirnya dia ingat dengan janjinya untuk bertemu Siwon siang tadi. Dia berlari menuju taman hiburan dan tidak jadi membeli makanan.
.
.
.
Sebuah ruangan dengan bentuk sederhana namun terlihat rapi. Ada beberapa meja yang berjejer rapi di dalamnya, jangan lewatkan tumpukan berkas-berkas –entah apa– yang memenuhi tiap mejanya.
"Apa? Tapi putriku telah melapor kehilangan sejak seminggu yang lalu!"
Terdengar suara dengan nada tinggi mendominasi ruangan itu. Suara itu berasal dari pria baya yang tak lain adalah ayah dari kakak-beradik Cho.
"Jeongmal kamsamhamnida inspektur Hyukjae. Saya akan segera ke sana untuk membuat laporan hilang" setelah itu akhirnya Tn. Cho memutuskan sambungan teleponnya.
Ia memijit keningnya yang tiba-tiba terasa pening. Keberangkatannya tinggal dua hari lagi tapi bahkan pihak kepolisian bilang belum ada yang melapor tentang kehilangan anaknya.
"Apa Ahra benar-benar tidak melaporkannya?" ia memasang raut bingungnya.
Akhirnya Appa dari Cho bersaudara itu merapikan pekerjaannya. Setelah mendapat ijin dari atasannya, ia langsung bergegas pergi ke kantor polisi. Mungkin atau tidak ia harus segera menemukan Kyuhyun, mengingat keberangkatannya yang tinggal lusa.
.
.
.
[Ahra POV]
Satu, dua, tiga sendok makan tepung terigu telah ku masukkan dalam adonan okonomiyaki buatanku. Senang sekali rasanya dapat memasak makanan favorit bersama umma, hanya dengan umma.
"Jangan terlalu banyak menambahkan kecap manis nak, saus tiram saja sebenarnya cukup" umma berkata halus sambil memanaskan minyak di wajan.
"Ne, mana irisan wortelnya umma?" aku bertanya sambil terus mengaduk adonan putih di dalam mangkuk.
"Aku tidak menggunakannya"
Aku berhenti mengaduk adonan di tanganku. Ku alihkan pandanganku menatap umma yang sekarang sedang terdiam seperti kehilangan semangat. Ia menggenggam erat sodet masak di tangannya.
"Tak ada yang akan protes bila kita menambahkan sayur umma" Aku menatap umma... Datar.
"Tapi dia tidak suka sayur..."
Hatiku kembali perih. Entah sudah sebesar apa lubang di hatiku. Umma terus mengungkitnya, terus bersikap seolah-olah dia ada di sini.
'Lihat aku. Hanya ada aku di hadapanmu. Kenapa kehadiranku seperti semu, kenapa mesti menghiraukan yang tidak ada?'
"Tapi dia tidak akan memakannya" ku pelankan suaraku. Mencoba memberi pengertian kepada umma. Aku ingin dia melihat aku. Anak kandungnya!
Umma menaruh sodet yang tadi di pengangnya pelan. Kemudian ia berjalan mendekatiku, menatap mataku.
"Dia akan pulang, dia akan merajuk dan meminta semua sayur di piringnya di singkirkan... Dia akan memakan okonomiyaki buatanmu nak..."
Sakit.
Ku rasakan sakit yang teramat sangat. Segala perasaan yang memenuhi dan menyesakkan. Setiap saat, setiap helaan napasku, kawah kebencian padanya... Bertambah luas, bertambah dalam.
"Kau bisa melanjutkannya 'kan, kepalaku terasa sakit" umma tersenyum, ku tahu senyum itu di paksakan.
Perih.
Umma lalu berjalan melaluiku.
Aku bersumpah untuk tiap detik yang ku lewati, tiap napas yang ku hela.
Aku...
Cho Ahra.
Tak akan pernah memberi ruang sayangku untuk Kyuhyun. Cukup penuh, penuh dengan segala kebencianku untuknya. Apa dia masih perlu ruang di hatiku, ini sudah cukup penuh!
.
.
.
Kyuhyun berlari tergesa. Tak di perdulikannya betapa tatapan jengkel yang di arahkan padanya waktu menabrak orang ketika berlari. Sesekali ia melihat jam tangannya yang sekarang sudah menunjukkan pukul delapan malam. Oh ayolah… perjanjiannya jam berapa? Kyuhyun sangat terlambat.
.
Kyuhyun sudah berada di taman hiburan, tepatnya di depan wahana bianglala yang berdiri megah di hadapannya. Tapi, ia tidak terlalu memperdulikan hal itu, ia ingin mencari Siwon. Ia merogoh kantung celananya untuk mengambil ponselnya. Di tekannya tombol dial, untuk menghubungi Siwon.
Wooriga naireul muhguhdo wooseumyuh saragago shipuh.
Would you marry me? Naui modeun nareul hamgge haejullae?
Kyuhyun mengernyit mendengar suara ringtone ponsel yang sudah tak asing lagi baginya. Dengan segala rasa penasarannya, ia menoleh ke belakang. Asal suara. Dan betapa terkejutnya dia waktu melihat Siwon sedang berdiri sambil memasang tampang yang… sulit di artikan.
"Wonnie-hyung?"
Siwon terdiam sambil menatap Kyuhyun.
"Kyu, tadi aku menghabiskan senja di sini" Siwon mengatur napasnya yang seakan memburu karena debaran jantungnya yang menggila.
"Mian hyung, aku lupa tadi, tadi aku liat anak kecil tersesat, terus aku juga lapar hyung, aku mau beli topoki tapi ga jadi, aku lari ke sini terus aku–"
"–Aku kecewa denganmu Kyu…"
"Aku… lupa… sumpah… Lu-"
"Aku letih Kyu"
Siwon berkata pendek sambil menatapi wajah Kyuhyun intens.
"Aku minta ma–"
"–Aku sangat letih dan mengantuk Kyu" ada nada kecewa dalam suara Siwon.
Kyuhyun terdiam. Ia sudah tidak memiliki cadangan alasan lagi untuk menutupi kesalahannya. Tatapan mata Siwon. Begitu kentara betapa kecewa tersirat di dalamnya. Kyuhyun takut. Ia benci dengan dirinya yang selalu saja tidak berguna bagi orang lain.
Mereka berdua. Tak ada yang mengeluarkan suara.
Tiba-tiba Siwon mundur satu langkah menjauh dari Kyuhyun. Ia menarik napasnya dan berkata. "Please… be my baby."
Kyuhyun terdiam. Tak mengerti apa yang Siwon katakan.
"Aku kecewa denganmu Kyu. So, please be My baby."
Kyuhyun semakin tidak mengerti saja.
"Aku letih Kyu. So, please be my baby. Aku letih dan mengantuk Kyu. So, please be my baby-"
"Wonnie hyung aku–"
"–Please by my baby. Aku akan bersiap letih untuk ketenanganmu, aku bersiap tidak tidur nyenyak untuk menjagamu. Aku siap memberikan senyum terbaik untukmu. So, please my baby" Siwon berkata mantap.
Kyuhyun menutup mulutnya tak percaya. Ia menganggap ini adalah sebuah mimpi, tapi secepat mungkin ia sadar bahwa ini bukan mimpi. Siwon, bersedia menjaganya, menerimanya. Ia merasa memiliki harga kala keluarganya tak menginginkannya lagi.
Siwon merentangkan tangannya lebar. "Bila kau sudi denganku"
Seakan mengerti, Kyuhyun langsung berlari menerjang tubuh kekar Siwon di hadapannya. Siwon sendiri langsung membawa Kyuhyun dalam pelukannya.
"Kim Kyuhyun, saranghae" Siwon berkata sambil menatap mata Kyuhyun.
"Nado hyung,"
Seketika itu Siwon langsung membawa Kyuhyun dalam ciuman hangatnya. Tak perduli betapa tatapan orang banyak yang memperhatikan mereka. Baby Kyu, milik Wonnie seorang.
.
.
.
"Sangat sulit menemukan orang dalam waktu satu hari."
"Memalukan, orang seperti anda masih bisa bilang sulit?"
"Arraseo,saya akan berusaha Mr. cho"
"kalau begitu aku mohon bantuannya."
Dua orang laki-laki tampak tengah berbicara serius di sebuah café. Yang satu adalah adalah ayah Kyuhyun, dan yang satunya lagi adalah detektif yang di bayar Tn. Cho untuk mencari Kyuhyun. Karena prosedur administrasi kepolisian yang sangat berbelit, Tn. Cho memutuskan untuk meyewa jasa detektif saja.
"Menurut list pencarianku, nama Cho Kyuhyun itu tidak terdaftar di perusahaan, sekolahan, atau tempat lainnya."
"Apa kau yakin alatmu itu benar? Itu hanya sebuah benda hitam kecil dengan sebuah layar sentuh. Tidak bisa menentukan apapun"
"Tapi ini di pakai oleh NATO dan militer Amerika untuk mencari keberadaan Osama, tak mungkin di ragukan lagi." Lelaki dengan balutan pakaian resmi itu mengutak-atik gadget mungil di tangannya. "Tapi aku menemukan dua nama yang mirip. Cho Hyuyon dan Kim Kyuhyun."
Ayah Kyuhyun tampak berpikir sebentar. "We got him! Fokuskan pada nama Kim Kyuhyun!"
.
.

[To Be Continued] xoxoxo